
Tahun 2026 menjadi momen krusial bagi Capcom. Setelah beberapa tahun konsisten merilis game berkualitas tinggi dan berhasil menjaga reputasi sebagai publisher besar yang stabil, Capcom kembali mencuri perhatian lewat dua judul yang sangat berbeda namun sama-sama ambisius: Pragmata dan Monster Hunter Stories 3. Keduanya dipamerkan dalam rangkaian pengumuman besar awal 2026 dan langsung memantik diskusi panjang di komunitas global.
Yang menarik, Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 tidak hanya berbeda dari segi genre, tetapi juga merepresentasikan dua pendekatan desain yang kontras. Satu mengusung fiksi ilmiah gelap dengan nuansa misteri dan narasi berat, sementara yang lain membawa petualangan RPG penuh warna dengan pendekatan ramah untuk generasi baru Monster Hunter. Namun justru dari perbedaan inilah kita bisa membaca arah baru Capcom.
Artikel ini akan membahas Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 secara mendalam, mulai dari latar belakang pengembangannya, gameplay, arah cerita, respons komunitas, hingga dampaknya bagi industri game di 2026. Ditulis dengan gaya jurnalis Gen Z yang reflektif dan kontekstual, artikel ini tidak hanya merangkum informasi, tetapi juga mencoba membaca makna di balik dua proyek besar Capcom ini.
Capcom di Era Transisi Industri Game
Dalam beberapa tahun terakhir, industri game berada di fase transisi. Gamer mulai jenuh dengan live service berlebihan, monetisasi agresif, dan game yang terasa dibangun lebih untuk retention daripada pengalaman. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kualitas narasi, desain dunia, dan identitas game justru meningkat.
Capcom termasuk publisher yang cukup berhasil membaca perubahan ini. Mereka tidak terburu-buru mengikuti semua tren, tetapi juga tidak sepenuhnya menutup diri dari eksperimen. Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 adalah contoh paling jelas dari strategi ini.
Satu proyek berani keluar dari zona nyaman, sementara yang lain mengembangkan IP mapan dengan pendekatan baru.
Pragmata: Proyek Misterius yang Akhirnya Menemukan Bentuk
Sejak pertama kali diumumkan beberapa tahun lalu, Pragmata selalu diselimuti tanda tanya. Trailer awalnya minim dialog, penuh simbol, dan lebih menekankan atmosfer ketimbang gameplay. Banyak yang penasaran, tapi tidak sedikit pula yang skeptis.
Di 2026, Pragmata akhirnya menunjukkan wujud yang lebih jelas. Capcom mulai membuka tabir soal konsep gameplay, dunia, dan arah ceritanya. Dan satu hal langsung terasa: ini bukan game Capcom yang biasa.
Dunia Pragmata: Fiksi Ilmiah yang Sunyi dan Intim
Pragmata mengambil latar dunia futuristik dengan nuansa sci-fi yang dingin dan sunyi. Alih-alih kota neon penuh hiruk-pikuk, game ini menampilkan lingkungan yang terasa kosong, terisolasi, dan penuh misteri. Pemain tidak hanya diajak bertarung, tetapi juga merenung.
Dunia dalam Pragmata dirancang untuk:
- Membuat pemain merasa kecil dan sendirian
- Menggugah rasa penasaran, bukan sekadar adrenalin
- Menyampaikan cerita lewat lingkungan, bukan dialog panjang
Pendekatan ini mengingatkan pada game-game yang menempatkan atmosfer sebagai tokoh utama.
Gameplay Pragmata: Aksi yang Tidak Terburu-buru
Berbeda dengan game aksi Capcom pada umumnya, Pragmata tidak menekankan kecepatan atau refleks ekstrem. Gameplay-nya lebih taktis, terukur, dan sering kali memaksa pemain berpikir sebelum bertindak.
Elemen yang menonjol dari gameplay Pragmata:
- Kombinasi aksi dan puzzle kontekstual
- Interaksi dengan lingkungan sebagai bagian dari strategi
- Ritme permainan yang lambat namun intens
Ini bukan game yang mendorong pemain untuk selalu maju. Pragmata justru memberi ruang untuk berhenti, mengamati, dan memahami situasi.
Narasi Pragmata: Relasi Manusia dan Teknologi
Salah satu aspek paling dibicarakan dari Pragmata adalah fokus narasinya. Cerita tidak hanya berkutat pada konflik eksternal, tetapi juga relasi antara manusia, teknologi, dan kesepian.
Tema-tema besar yang diangkat antara lain:
- Ketergantungan manusia pada sistem buatan
- Kehilangan makna di dunia yang terlalu canggih
- Hubungan emosional yang lahir di tengah kehancuran
Capcom tampaknya ingin menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan emosional, bukan sekadar spektakel visual.
Monster Hunter Stories 3: Evolusi RPG Monster Hunter
Jika Pragmata adalah eksperimen serius, maka Monster Hunter Stories 3 adalah evolusi yang matang. Seri Stories sejak awal memang dirancang berbeda dari Monster Hunter utama. Ia lebih fokus pada RPG berbasis cerita, karakter, dan hubungan dengan monster.
Di 2026, Monster Hunter Stories 3 hadir dengan ambisi lebih besar. Bukan sekadar lanjutan, tetapi penyempurnaan dari fondasi yang sudah ada.
Dunia dan Visual: Lebih Hidup, Lebih Ekspresif
Monster Hunter Stories 3 menampilkan dunia yang jauh lebih luas dan beragam. Lingkungan terasa hidup, penuh warna, dan dirancang untuk eksplorasi jangka panjang.
Perubahan visual yang paling terasa:
- Desain monster lebih ekspresif
- Dunia yang bereaksi terhadap tindakan pemain
- Transisi area yang lebih mulus
Pendekatan visual ini membuat game terasa ramah, tetapi tidak dangkal.
Gameplay Stories 3: Strategi di Balik Kesederhanaan
Meski tampil dengan gaya yang lebih kasual dibanding Monster Hunter utama, Monster Hunter Stories 3 tetap menyimpan kedalaman strategi. Sistem pertarungan berbasis giliran kini diperluas dengan lebih banyak variasi skill, sinergi tim, dan pilihan taktis.
Yang menarik, game ini:
- Mudah dipahami pemula
- Tetap menantang untuk pemain lama
- Mendorong eksperimen strategi
Ini adalah RPG yang dirancang inklusif tanpa mengorbankan kompleksitas.
Cerita dan Karakter: Lebih Dewasa, Lebih Emosional
Monster Hunter Stories 3 juga menunjukkan peningkatan signifikan di sisi narasi. Cerita tidak lagi sekadar petualangan ringan, tetapi mulai menyentuh tema konflik, tanggung jawab, dan konsekuensi.
Karakter pendukung memiliki:
- Motivasi yang lebih jelas
- Perkembangan emosional
- Peran penting dalam cerita
Capcom tampaknya sadar bahwa audiens mereka kini lebih dewasa dan menginginkan cerita yang lebih bermakna.
Dua Game, Dua Audiens, Satu Visi
Yang membuat Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 menarik untuk dibahas bersama adalah bagaimana keduanya menunjukkan fleksibilitas Capcom.
Pragmata menyasar:
- Gamer yang menyukai narasi berat
- Pengalaman atmosferik
- Pendekatan sinematik dan reflektif
Monster Hunter Stories 3 menyasar:
- Penggemar RPG
- Pemain kasual hingga hardcore
- Komunitas Monster Hunter lintas generasi
Namun di balik perbedaan ini, visinya sama: menghadirkan game yang punya identitas kuat dan tidak sekadar mengikuti tren.
Respons Komunitas: Antara Antusias dan Penasaran
Respons awal terhadap kedua game ini cenderung positif. Pragmata dipuji karena keberaniannya, meski sebagian gamer masih penasaran soal replay value dan durasi.
Monster Hunter Stories 3 mendapat sambutan hangat, terutama dari:
- Penggemar lama seri Stories
- Gamer yang ingin Monster Hunter versi lebih santai
- Pemain baru yang ingin masuk ke semesta Monster Hunter
Diskusi di komunitas menunjukkan satu hal: Capcom berhasil menciptakan rasa ingin tahu, bukan sekadar hype instan.
Dampak bagi Industri Game 2026
Kehadiran Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 menegaskan bahwa:
- Publisher besar masih bisa berani bereksperimen
- Game single-player berbasis cerita tetap relevan
- RPG tidak harus selalu hardcore atau kasual, bisa di tengah
Di tengah industri yang sering terjebak pola aman, Capcom memilih jalur yang lebih berimbang.
Penutup: Capcom dan Keberanian Membaca Zaman
Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 bukan sekadar dua game baru. Keduanya adalah representasi dari Capcom yang lebih percaya diri, reflektif, dan berani mengambil risiko terukur.
Pragmata menunjukkan sisi Capcom yang ingin bercerita lebih dalam dan personal. Monster Hunter Stories 3 menunjukkan komitmen mereka untuk merawat IP besar tanpa stagnasi. Bersama-sama, keduanya membentuk gambaran publisher yang tidak hanya besar, tetapi juga relevan.
Di 2026, ketika industri game bergerak cepat dan sering kehilangan arah, langkah Capcom lewat dua judul ini terasa seperti pernyataan tenang namun tegas: kualitas, identitas, dan pengalaman pemain masih menjadi prioritas utama.